MENINGKATKAN KEMAHIRAN PERKALIAN BILANGAN CACAH MELALUI TEKNIK ANALOGI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA SPOOL BOARD PADA PESERTA DIDIK KELAS IV SEKOLAH DASAR

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Dengan melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar selain bisa menguasai materi pembelajaran, guru hendak memiliki keterampilan teknik-teknik mengajar yang harus dikuasai guru. Erat kaitannya dengan metode dan alat peraga yang sesuai dengan metode pembelajarannya. Guru profesional senantiasa akan terus berinovasi, mencoba berbagai teknik belajar dan mengajukan pelajaran yang disajikan.

Kemasan konteks sebaiknya disusun agar mudah dipahami dan tidak membosankan anak. Pembelajaran yang dikemas dengan menggunakan alat peraga yang disenangi akan mudah mencapai tujuan pembelajaran dalam bentuk kemahiran yang dikuasai anak. Tujuan pembelajaran matematika menurut (Depdiknas, 1005:2) adalah sebagai berikut :

Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis dan konsisten. Tujuan pembelajaran matematika yang dibakukan dan harus dicapai oleh peserta didik pada akhir periode pembelajaran dikelompokan kedalam matematika, bilangan, pengukuran geometri, dan aljabar.

Penguasaan materi merupakan kemampuan seorang guru dalam rangka mendukung ketercapaian, kompetensi/sub kompetensi secara efektif dan efisien. Kompetensi bahan kajian matematika menurut Depdiknas meliputi :

Ketercakapan serta kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam pembelajaran matematika mulai dari SD sampai SMA. Kecakapan tersebut dicapai dengan memilih materi matematika melalui beberapa aspek dikuasai peserta didik. (2003:3)

Pencapaian standar kompetensi mutlak diperlukan karena akan berhubungan langsung dengan penguasaan materi yang diajarkan guru. Standar kompetensi yang harus dicapai peserta didik dalam mata pelajaran matematika sekolah dasar menurut KBK Depdiknas adalah :

Kemampuan matematika yang dipilih dalam standar kompetensi ini dirancang dengan memperhatikan perkembangan pendiidkan matematika dunia sekarang ini. Untuk mencapai kompetensi tersebut dipilih materi-materi matematika dengan mempraktikan struktur keilmuan, tingkat kedalam materi, serta sifat esensial materi dalam kehidupan sehari-hari. (2003:3)

Untuk menghasilkan lulusan yang baik perlu mendapat perhatian dan pengalaman yang serius dari seorang guru. Guru mengantisipasi hal-hal tersebut, maka dimulai dari kelas rendah sudah diupayakan agar peserta didik tertarik dan berminat pada pelajaran sehingga tidak lagi menghadapi kesalahan dalam belajar matematika.

Dari data awal yang penulis wawancarai beberapa orang peserta didik kelas IV SD Negeri 1 Karangampel sebagaian besar responden mengatakan bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaraan yang sulit. Kesan ini mengindikasikan bahwa pelajaran matematika tidak diminati oleh sebagian besar peserta didik kelas IV SDN 1 Karangampel. Materi pelajaran yang paling dianggap sulit oleh sebagian besar peserta didik kelas IV SDN 1 Karangampel dan belum dikuasai adalah perkalaian bilangan cacah.

Penyebab sulitnya materi perkalian bilangan cacah adalah peserta didik tidak memahami konsep dasar perkalian yang merupakan penjumlahan berulang. Hal ini disebabkan karena pada saat pengenalan perkalian langsung memberikan materi pelajaran perkalian dengan cara menghapal perkalian (raraban).

Berdasarkan data awal yang diperoleh, maka penulis memandang perlu untuk mengadakan penelitian tentang pembelajaran matematika pada materi perkalian bilangan cacah. Kesulitan peserta didik sebelumnya bkan hanya terletak pada materi pembelajaran yang terlalu tinggi atau sukar namun berkaitan erat dengan minat belajar peserta didik.

Data awal wawancara kepada peserta didik kelas IV SDN 1 Karangampel adalah sebagaimana terlihat dibawah ini.

Tabel 1.1 Minat Belajar Matematika

No Minat Belajar Matematika Jumlah Peserta didik Presentase Minat Belajar Matematika Ket
1 Tinggi

4 orang

4/30 x 100% = 13%

2 Sedang

7 orang

7/30 x 100% = 22%

3 Rendah

19 orang

19/30 x 100% = 65%

Jumlah

30 orang

100%

            Sumber : hasil wawancara pada peserta didik kelas IV SDN 1 Karangampel

            Keterangan :

            Tinggi              : menjawab sangat menyukai pelajaran matematika

            Sedang                        : menjawab cukup menyukai pelajaran matematika

            Rendah            : menjawab tidak menyukai pelajaran matematika

Pada umumnya kemampuan guru yang berkenaan dengan didaktis masih memprihatinkan. Para guru banyak menghadapi kesulitan dalam mengembangkan didaktis di depan kelas. Hal ini telah berimplikasi negatif terhadap pelaksanaan proses pembelajaran serta berakibat langsung maupun tidak langsung terhadap rendahnya mutu tamatan sekolah.

Mengingat betapa pentingnya penguasaan perkalian bilangan cacah untuk kemahiran matematika sebagaimana data awal terhadap minat belajar matematika di atas, maka penulis bermaksud untuk menelitinya dengan menerapkan model pembelajaran melalui teknik analogi dengan menggunakan media spool board pada peserta didik kelas IV SDN 1 Karangampel sebagai upaya mengatasi kesulitan peserta didik dalam meningkatkan kemahiran dalam perkalian.

Penggunaan teknik analogi dengan menggunakan media spool board pada pelaksanaan pembelajaran perkalian bilangan cacah merupakan bentuk perkalian yang berdasar pada penjumlahan berulang. Dengan demikian diharapkan peserta didik dapat memahami perkalian bilangan cacah secara komperhensif dan mudah karena tidak dalam bentuk penjumlahan yang sudah difahami dan dikuasai peserta didik.

 B.     Rumusan Masalah

Berorientasi pada latar belakang masalah yang penulis kemukakan diatas, maka permasalahan utama yang terdapat dalam penelitian ini adalah belum optimalnya pembelajaran bilangan cacah. Secara rinci permasalahan tersebut diuraikan dalam pertanyya dibawah ini :

  1. Bagaimana pelaksanaan evaluasi melalui teknik analogi dengan menggunakan media spool board di kelas IV SDN 1 Karangampel ?
  2. Bagaimana hasil pembelajaran matematika materi perkalian teknik analogi dengan menggunakan media spool board di kelas IV SDN 1 Karangampel ?
  3. Hambatan-hambatan apakah ya ng ditemukan dalam pembel;ajaran matematika materi perkalian bilangan cacah melalui teknik analogi dengan menggunakan media spool board di kelas IV SDN 1 Karangampel ?
  4. Solusi apakah untuk memperkecil hambatan yang ditemukan dalam pembelajaran matematika materi perkalian bilangancacah melalui teknik analogi dengan menggunakan media spool board di kelas IV SDN 1 Karangampel ?

 C.    Tujuan dan Manfaat

Sesuai dengan  yang telah dirumuskan di atas, maka dalam tujuan penelitian ini penulis akan mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran matematika materi perkalian bilangan cacah melalui teknik analogi dengan menggunakan media spool board di kelas IV SDN  1 Karangampel.
  2. Hasil pembelajaran matematika materi perkalian bilangan cacah melalui teknik analogi dengan menggunakan media spool board di kelas IV SDN 1 Karangampel.
  3. Hambatan-hambatan yang ditemukan dalam pembelajaran matematika pada materi perkalian bilangan cacah melalui teknik analogi dengan menggunakan media spool board di kelas IV SDN 1 Karangampel.
  4. Prediksi solusi untuk memperkecil hambatan yang ditemukan dalam pembelajaran matematika materi perkalian bilangancacah melalui teknik analogi dengan menggunakan media spool board di kelas IV SDN 1 Karangampel.
  5. Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah :

  1. Bagi peserta didik SDN 1 Karangampel penelitian ini dapat disajikan sebagai salah satu alternatif solusi terhadap sulitnya pembelajaran matematika bilangan cacah di kelas IV SDN 1 Karangampel.
  2. Bagi penulis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pengalaman yang berharga agar lebih efektif dalam mengajarkan matematika di Sekolah Dasar.

 D.    Batasan Masalah

Perkalian adalah operasi penjumlahan  yang dilakukan secara berulang. Bilangan cacah adalah bilangan yang terdiri dari bilangan nol sampai tak terhingga. Teknik analaogi adalah suatu proses mengajar dimana guru berusaha menyederhanakan suatu konsep abstrak dan sulit agar peserta didik dapat memahami konsep tersebut. (muctar, 1997:29). Media spool board adalah media dengan menggunakan papan batang.

BAB II

STUDI KEPUSTAKAAN

 A.    Pembelajaran Matematika

1. Pengertian Matematika

“Matematika sebagai slaah satu sumber ilmu dasar yang saat ini telah berkembang amat pesat baik materi maupun kegunaan” (Dekdikbud, 1994:110). Kemudian Depdikbud memperbaharui matematika sebagai berikut :

Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran obyektif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika sangat kuat dan jelas. (2003:1).

 Dalam hal ini yang dimaksud dengan matematika adalah sekolah dasar adalah matematika yang diajarkan di pendidikan dasar dan pendiidkan menengah. Matematika sekolah dasar tersebut menumbuhkembangkan kemapuan-kemampuan dan membentuk pribadi peserta didik serta terpadu pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Berarti matematika sekolah dasart tidak dapat dipisahkan sama sekali dari cicri-ciri yang dimiliki matematika secara umum.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa matematika memiliki ciri-ciri penting yaitu (1) memiliki kajian yang abstrak, (2) berpola kritis deduktif dan konsisten, (3) berkaitan anatar konsep dalam matematia bersifat sangan kuat dan jelas.

2. Fungsi Mata Pelajaran Matematika

Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada dalam sistem kurikulum pendidikan dasar, disamping mata pelajaran yang berjumlah isi mata pelajaran.

Fungsi matematika sekolah dasar adalah salah satu unsur masukan instrumen yang memiliki obyek dasar abstrak yang berlandaskan pada kebenaran konsisten dalam sistem proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan.

3. Ruang Lingkup Materi Matematika di Kelas IV

Ruang lingkup mata pelajaran matematika perlu diketahui oleh para guru agar pada waktu memberikan kepada peserta didik, guru mempunyai batasan-batasan keluasan materi yang harus diajarkan (Depdikbud, 1990:112), ruang lingkup materi pelajaran matematika sekolah dasar meliputi : aritmetika (berhitung), pengantar aljabar, geometri, pengukuran dan kajian data (pengantar statistika). Penekanan diberikan pada penguasaan bilangan termasuk didalamnya berhitung.

Sedangkan menurut kurikulum berbasis kompetensi 2004 (Depdiknas, 2003:6) “ruang lingkup materi matematika meliputi kemahiran matematika, bilangan, pengukuran dan geometri, aljabar, statistika dan peluang trigonometri dan kalkulus”.

4. Hakikat Matematika sebagai Bahan Pengajaran

Matematika merupakan ilmu yang berperan penting dalam kehidupan manusia. Cara memperoleh hasil meliputi cara kerja, sikap dan cara berfikir. Pada praktiknya matematika tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan kegiatan manusia seperti menghitung dengan berpedoman pada cara berfiki yang sitematis, bersikap teliti dan tekun agar hasil yang diperoleh tidak salah.

5. Metode Pembelajaran Matematika

Untuk mengajarkan matematika tidak cukup dengan menggunakan metode ceramah karena matematika merupakan pembelajaran yang harus ditunjang dengan praktek dan aplikasi pada soal pembuktian dan latihan. Oleh karena itu diperlukan metode dan teknik yang sesuai dengan materi yang dibahas yang disesuaikan dengan tingkatan kelas dimana materi tersebut diajarkan.

Bruner dalam Russefendi (1994:78) mengemukakan bahwa dalam proses belajar peserta didik meliputi tiga tahap, yaitu :

1. Tahap anektif

Dalam tahap ini peserta didik secara langsung terlibat dalam manipulasi obyek.

2. Tahap ikonik

Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan peserta didik berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari obyek-obyek yang memanuipulasinya, anak tidak langsung memanipulasi obyek seperti yang dilakukan pada tahap anektif.

3. Tahap simbolik

Pada tahap ini belajar tidak melalui latihan dan mengasah otak namun diperoleh dari peserta didik melalui bagaiman peserta didik berbuat, berfikir memperoleh persepsi. Ini menandakan bahwa setiap yang diberikan, dipelajari peserta didik harus berfungsi dan jelas kegunaannya.

6. Evaluasi yang Teratur

Kegiatan mengevaluasi keberhasilan belajar mengajar bagian integral dan tugas guru. Mengevaluasi keberhasilan proses belajar mengajar yang ditunjukkan oleh kinerja peserta didik dalam belajar perlu dilakukan secara terarah dan berkesinambungan selam sesudah proses belajar mengajar berlangsung.

Evaluasi proses dan hasil belajar yang harus dilaksanakan dengan menganut prinsip-prinsip : Menyeluruh, Mengakomodasikan kemampuan pada ranah koognitif, afektif dan psikomotor, Berkesinambungan, Berorientasi pada tujuan,Objektif, Terbuka, Bermakna, dan Mendidik.

 B.     Media Pembelajaran Matematika

1. Peranan Media atau Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika

Pada dasarnya secara individual manusia berbeda-beda, namun demikian juga dalam memahami konsep-konsep abstrak akan dicapai melalui tingkat belajar yang berbeda-beda. Namun suatu keyakinan bahwa anak-anak belajar melalui dunia nyata dan dengan memanipulasi benda-benda nyata sebagai perantaranya.

Pemahaman konsep abstrak dalam matematika yang baru dipahami peserta didik perlu diberikan penguatan supaya mengendap, melekat dan tahan lama tertanam sehingga menjadi miliknya dalam pola fikir maupun pola tindaknya. Untuk keperluan inilah maka diperkirakan belajar melalui berbuat dan pengertian tidak hanya sekedar hapalan atau mengingat fakta saja, yang tentunya akan mudah dilipakan dan sulit dimiliki.

Dalam pembelajaran matematika di SD memerlukan alat peraga sehingga guru perlu mengetahui macam-macam alat peraga yang dapat dipakai dalam mengajar matematika, khususnya di SD. Namun tidaklah berarti setiap konsep matematika harus diajarkan dengan alat peraga.

2. Fungsi dan Manfaat Penggunaan Media

Adapun beberapa fungsi media menurut Russeffendi (1994:126) dalam pembelajaran matematika, diantaranya :

  1. Peserta didik akan lebih banya mengikuti pelajaran matematika dengan perasaan senag dan gembira sehingga nantinya dalam mempelajari matematika peserta didik menjadi tertarik dan bersikap positif terhadap pelajaran matematika.
  2. Dengan disajikannya konsep abstrak matematika dalam bentuk konkrit maka peserta didik pada tingkat rendah akan mudah dipahami dan dimengerti.
  3. Peserta didik menyadari yang ada disekitarnya, atau antara ilmu dengan alam sekita dengan masyarakat.
  4. Konsep-konsep abstrak yang disajikan dalam bentuk konkrit yaitu dalam bentuk model matematika dapat disajikan obyek penelitian yang dapat pula disajikan alat untuk penelitian ide-ide baru dan solusi-solusi baru.

Menurut Russeffendi (1994:130) selain dari fungsi alat peraga dalam pembelajaran matematika dapat pula dihubungkan dengansalah satu tujuan berikut ini :

  1. Pembentukan konsep.
  2. Pemahaman konsep.
  3. Latihan dan penguatan.
  4. Melayani perbedaan individu, termasuk peserta didik yang lemah berbakat.
  5. Pengukuran alat peraga dipakai sebagai alat ukur.
  6. Pengamatan dan penemuan alat peraga sebagai obyek penelitian maupun alat untuk meneliti.
  7. Pemecahan masalah.
  8. Mengundang berfikir
  9. Mangundang untuk berdiskusi
  10. Mengundang berpartisipasi.

 C.    Teori Belajar Matematika

1. Teori Belajar Jean Piaget

Jean Piaget meyakini (dalam Wahab, 1998:271) bahwa perkembangan mental peserta didik terbagi keadalam tahap-tahap berikut : “perkembangan mental setiap pribadi melewati 4 tahap yaitu (1) sensori motor (0-2 tahun), (2) profesional (2-7 tahun), (3) operasional konkrit (7-12 Tahun), dan (4) operasional formal (12 tahun-dewasa)”. Peserta didik sekolah dasar pada umumnya berada pada tahap operasional konkrit yang pada tahao ini peserta didik sudah mulai berfikir logis sebagai akibat adanya kegiatan peserta didik memanipulasi benda-benda konkrit.

2. Teori Belajar Jerome S Bruner

Menurut Jerome S Bruner dalam Kariem (1996:25) dalam teorinya, mengungkapkan “bahwa dalam proses belajar seorang peserta didik perlu secara langsung menggunakan bahan-bahan atau benda-benda manipulasi”. Selanjutnya ditulis “dalam mempelajari matematika bahan-bahan atau benda-benda manipulasi merupakan benda konkret yang dirancang khusus dan dapat di utak atik oleh peserta didik dalam berusaha untuk memahami suatu konsep matematika”.

3. Teori Belajar Kohnstam

Kohnstam dalam Kariem (1996:28) menyatakan bahwa : “permainan merupakan hal yang penting dan merupakan kebutuhan individu karena hampir setiap orang ingin mendapat kesenangan atau kepuasaan, ingin menghilangkan ketegangan-ketegangan baik fisik maupun mental, ingin mengekspresikan sesuatu, mengeluarkan nafsu-nafsu dan semuanya itu diperoleh dari permainan”. Dalam permainan terdapat kebebasan, penghargaan juga kesenangan sehingga peserta didik dapat mengembangkan kegiatan baik jasmani maupun rohani melalui permainan.

BAB III

PEMBAHASAN MASALAH

 A.    Data

1. Wawancara

Sebenarnya langkah pertama dalam pengumpulan data dilakukan penulis adalah dengan melalui wawancara. Wawancara ini dilakukan terhadap peserta didik kelas IV, bahwa peserta didik kelas IV selalu kesulitan dalam operasi perkalian bilangan cacah.

Untuk mendapat objektif dan sesuai dengan hasil wawancara penulis menindak lanjuti dengan memberikan tes awak kepada peserta didik dan hasilnya membuktikan bahwa semua hal yang diutarakan oleh peserta didik kelas IV tersebut benar adanya

2. Tes

Tes dilakukan bersifat pretes dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan operasi perkalian bilangan cacah. Seperti yang tertera pada adata awal mengenai hasil dan proses pengerjaan yang dilakukan peserta didik sangan menghawatirkan sehingga perlu disikapi dan ditindak lanjuti. Soal yang diberikan berkisar operasi perkalian bilangan cacah yang memakai satu dan dua angka. Secara spesifik soal-soal dapat dilihat di bawah ini.

Kerjakan soal dibawah ini dengan benar !

  1. 4 x 5 = ….+….+….+…. = ….
  2. 5 x 6 = ….+….+….+….+…. = ….
  3. 7 x 8 = ….+….+….+….+….+….+…. = ….
  4. 6 x 9 = ….+….+….+….+….+…. =
  5. 5 x 7 = ….+….+….+….+…. = ….
  6. 15                                8.  25                           10.  26

10 x                                  25 x                               22 x

….                                     ….                                  ….

  1. 27                                9.  33

25 x                                  17 x

….                                     ….

 B.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Peserta didik dalam Menyelesaikan Operasi Perkalian Bilangan Cacah

Kesulitan peserta didik dalam menyelesaikan soal operasi perkalian bilangan cacah dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor intern maupun ekstern.

1. Faktor Intern

Faktor intern yang mempengaruhi kesulitan peserta didik mengerjakan operasi perkalian bilangan cacah yang datang dari dalam diri peserta didik diantaranya :

-          Kekurangan minat peserta didik terhadap pelajaran matematika.

-          Kurangnya perhatian peserta didik terhadap materi pelajaran yang diberikan.

-          Kurangnya kemampuan pemahaman peserta didik prasyarat pendukung penyelesaian operasi perkalian bilangan cacah.

 2. Faktor Ekstern

Faktor dari luar yang sanagat berpengaruh terhadap kemampuan peserta didik dalam menyelesaiakan operasi perkalian bilangan cacah terdiri dari beberapa penyebab, diantaranya :

-          Kurangnya penanaman konsep awal yang diberikan guru.

-          Pembelajaran yang disajikan oleh guru kurang menarik, menantang dan melibatkan peserta didik, sehingga minat anak dalam pembelajaran kurang.

-          Inovasi pembelajaran kurang dikembangkan oleh guru, salah satu contoh guru hanya memberikan rumus tanpa memperhatikan cara penerapan maupun model lain yang memudahkan peserta didik dalam menguasai pelajaran.

 C.    Upaya Mengatasi Kesulitan Peserta didik dalam Menyelesaikan Operasi Perkalian Bilangan Cacah dengan Media Spool Board

1. Penanaman konsep perkalian bilangan cacah

Kesulitan dialami oleh peserta didik dalam menyelesaikan operasi perkalian bilangan cacah dimulai dari pemahaman konsep yang tidak dikuasai peserta didik oleh sebab itu penanaman konsep merupakan kondisi awal yang harus dijelaskan oleh guru untuk membentuk suatu pemahaman awal yang menjadi titik tolak keberhasilan dalam menyelesaikan operasi perkalian bilangan cacah.

Kemampuan peserta didik untuk menerima setiap konsep perkalian bilangan cacah berbeda-beda, tergantung kepada tingkat kecerdasan peserta didik. Disini diperlukan kemampuan guru dalam memahami perkembangan setiap peserta didik.

Atas dasar ini konsep yang paling awal ditetapkan oleh guru yaitu dimulai dari penanaman konsep bahwa perkalian adalah penjumlahan berulang. Untuk dapat menyajikan hal ini dengan benda-benda konkrit. Contoh : 3 x 4 dideskripsikan oleh guru dengan tiga kelas masing-masing diisi dengan 4 klereng, lalu hitung klereng yang terdapat pada setiap gelas. Konsep ini akan mudah dipahami karena menghitung dimungkinkan semua anak dapat melakukannya. Langkah kedua penanaman konsep dilakukan dengan menggunakan kalimat matematika operasi perkalian. Contoh 3 x 4 dapat dikerjakan dengan 4+4+4.

Setelah kedua penanaman konsep ini dilakukan ada beberapa hal yang dilakukan guru untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam penguasaan konsep awal ini, yaitu :

-          Berikan soal-soal yang diberikan secara peragaan.

-          Penarikan angka, benda konkrit dalam pembuatan soal.

-          Tingkat kapasitas kemampuan peserta didik melalui permainan bersyarat, dan mencongkak. Durasi melatih pemahaman soal awal ini diusahakan sesering mungkin.

Pemahaman konsep operasi bilangan cacah dilanjutkan dengan penjelasan model pengerjaan, model perkalian suatu panjang yang melibatkan unsur nilai tempat.

Contoh 1

25 x 12

Langkah-langkah

25 = 20 + 5

12 = 10 + 2

20 + 5

10 + 2

40 + 10   =   50

50 + 200 = 250

90 + 210 = 300

Penanaman konsep bisa dilanjutkan dengan emnggunakan jari tangan hanya penanaman konsep ini berlaku bagi perkalian lima ke atas.

Contoh

Langkah-langkah

-          Anak mengacungkan 10 jari tangan kemudian tentukan selisih angka lima (angka petokan) dari angka-angka dalam operasi perkalian.

-          7 selisih 2 dari 5, 3 diacungkan 2 dilipat.

-          8 selisih 3 dari 5, 3 diacungkan 2 dilipat.

-          Yang diacungkan dijumlah dan dikalikan 10.

-          Yang dilipat dikalikan.

-          Jadi 7 x 8 dilipat dari 3 + 2 jari yang diacungkan x 10 = 50.

-          Jadi yang dilipat.

-          Jadi tang dilipat 3 x 2 = 6.

-          Jadi 7 x 8 = 5 + 6 = 56

Hal ini perlu diperhatikan dalam penanaman konsep ini melatih kemampuan peserta didik mengenai perkalian karena tidak setiap peserta didik mampu memahami konsep ini, bagi peserta didik yang penguasaan alogaritma perkaliannya kurang akan menjadi kesulitan.

Penanaman konsep perkalian bilangan cacah yang dapat digunakan bagi semua permasalahan perklaian tanpa dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan peserta didik adalah dengan menggunakan media spool board.

Persyaratan utama untuk mengerjakan soal 5 x  4 dapat dilakukan dengan membuat garis vertikal dan horizontal.

Untuk lebih jelas dapat  dilihar dari gambar disamping.

Untuk mengerjakan perkalian 5×4 atau 4×5 cukup dengan menghitung perpotongan garis.

Media spool board merupakan salah satu alternatif dalam penanaman konsep perkalian bilangan cacah, maupun dalam menyelesaiakan operasi bilangan cacah, selain konsep-konsep pemahaman perkalian yang dipaparkan diatas.

2. Pelaksanaan mengenai penerapan media spool board di SD

Berbekal hasil observasi yang dilaksanakan penulis, ternyata kesulitan peserta didik dalam menyelesaikan operasi bilangan cacah penyebab utamanya adalah tidak dikenal dan dikuasainya pemahaman konsep perkalian bilangan cacah oleh para peserta didik. Sehingga dari 30 peserta didik sebanyak 23 orang peserta didik tidak dapat menyelesaikan operasi perkalian bilangan cacah. Mengingat karakteristik kesulitan peserta didik yang bersifat pundamental dalam hal penguasaan perkalian bilangan cacah maka penulis mengambil alternatif menggunakan spool board untuk mengatasi masalah ini.

Setelah dilakukan model ini selama dua kali pertemuan, terjadi peningkatan yang cukup baik. Pada awal tercatat rata-rata nilai peserta didik 4,97. Setelah di uji cobakan model spool board rata-rata nilai peserta didik menjadi 7,37.

Selainitu dampak positif dari penerapan media ini adalah antusias peserta didik dalam belajar cukup baik. Hal ini dikarenakan penerapan mau tidak mau akan melibatkan peserta didik secara fisik dan mentalnya pada proses pembelajaran. Hal ini penting yang dilakukan pada dasarnya adalah pengemasan pembelajaran yang diminati peserta didik dan memberi kemudahan dalam penguasaan konsep bagi peserta didik.

 D.    Paparan Data

1. Paparan data awal

Data penelitian yang diperoleh dilapangan berdasarkan hasil observasi dengan melihat keadaan / situasi sekolah, kemudian penulis mengadakan wawancara yang ditujukan kepada peserta didik kelas IV dari murid kelas IV. Setelah itu penulis mengadakan tes sebanyak 2 kali, yaitu :

-          Tes yang ke-1 dilakukan tanpa menggunakan media spool board dengan materi perkalian bilangan cacah.

-          Tes ke-2 dilaksanakan dengan menggunakan media spool board dengan materi sama.

2. Paparan Data Perencanaan

Data yang diperoleh dari kurikulum, bahwa apabila suatu materi yang akan disampaikan ditunjang dengan media dapat meningkatkan keterampilan serta kemampuan berfikir peserta didik. Dari hasil wawancara, penulis memperoleh data dengan mata pelajaran matematika mengenai perkalian bilangan cacah.

3. Paparan Data Pelaksanaan

Metode yang penulis gunakan adalah ceramah, tanya jawab, penugasan, demonstrasi dengan penggunaan media spool board.

  1. Evaluasi

Pada tahap akhir pembelajaran penulis mengadakan evaluasi, adapun hasi evaluasi yaitu nilai rata-rata peserta didik sebelum menggunakan media spool board 4,97 sedangkan setelah menggunakan media spool board meningkat menjadi 7,37 pada tabel berikut ini.

Tabel 2.1 Nilai Uji Sebelum Penerapan Media

No Nama Peserta didik Nilai Keterangan
1 RENDY 4
2 AINITA YULIA INSHANI 5
3 ALAN ADITYA 5
4 ANISA 4
5 ARIEL D IRMAWAN 5
6 ASYIFA LIA GUMELAR 7
7 AYI NURYANA 4
8 CICI HIKMAH FAUZIAH 5
9 DANI NOVIANA 6
10 DANI SUDARSONO 5
11 DINI APRILIANI 7
12 DIKI WAHYUDI 4
13 FADEL AKBAR 5
14 HENDIANA 5
15 IRFANSYAH 5
16 KRISNA ABDUL KHOLIK 4
17 KUSDIANA 6
18 M ALFIANA M 4
19 MIRA ADIRA 6
20 MITHA APRILIANI 5
21 NOFHAN M RAMDAN 6
22 NOVITASARI 5
23 RAHAYU RESTU FAUZI 5
24 SANTIKASARI 4
25 SILVI YUHANAH 5
26 TITA ROSITA 4
27 WILDAN FIRMANSYAH 5
28 DIDAH SAMROTUL FUADAH 4
29 NURISYA MARYAM RISANI 6
30 NUR FATHUR RAHMAN 4

 

Tabel 2.2 Frekuensi Nilai Tes Sebelum Penerapan Media

Nilai Banyak Peserta didik NX∑X
4 10 40
5 13 65
6 5 30
7 2 14
8 - -
9 - -
10 - -
Jumlah 30 149
Rata-rata 4,97

Tabel 2.3 Nilai Uji Sesudah Penerapan Media

No Nama Peserta didik Nilai Keterangan
1 RENDY 5
2 AINITA YULIA INSHANI 7
3 ALAN ADITYA 8
4 ANISA 7
5 ARIEL D IRMAWAN 7
6 ASYIFA LIA GUMELAR 8
7 AYI NURYANA 7
8 CICI HIKMAH FAUZIAH 8
9 DANI NOVIANA 9
10 DANI SUDARSONO 7
11 DINI APRILIANI 10
12 DIKI WAHYUDI 6
13 FADEL AKBAR 8
14 HENDIANA 8
15 IRFANSYAH 7
16 KRISNA ABDUL KHOLIK 8
17 KUSDIANA 8
18 M ALFIANA M 6
19 MIRA ADIRA 10
20 MITHA APRILIANI 7
21 NOFHAN M RAMDAN 9
22 NOVITASARI 6
23 RAHAYU RESTU FAUZI 7
24 SANTIKASARI 6
25 SILVI YUHANAH 7
26 TITA ROSITA 7
27 WILDAN FIRMANSYAH 7
28 DIDAH SAMROTUL FUADAH 6
29 NURISYA MARYAM RISANI 9
30 NUR FATHUR RAHMAN 6

 

Tabel 2.4 Frekuensi Nilai Tes Setelah Penerapan Media

Nilai Banyak Peserta didik NX∑X
4 - -
5 1 5
6 6 36
7 11 77
8 7 56
9 3 27
10 2 20
Jumlah 30 221
Rata-rata 7,37

E.     Hambatan-hambatan dalam Penerapan Dalam Media Spool Board untuk Mengatasi Kesulitan Menyelesaikan Operasi Perkalian Bilangan Cacah

Dalam proses penerapan media spool board untuk mengatasi kesulitasn peserta didik menyelesaikan operasi perkalian bilangan cacah. Penulis menemukan beberapa hambatan baik pada saat pengumpulan data maupun pada proses penerapan. Walaupun hambatan tersebut kadarnya tidak begitu mengganggu tetapi sudah sepatutnya untuk disikapi dan diminimalisir hambatan-hambatan tersebut diantaranya :

  1. Terbatasnya waktu yang dipakai untuk pengumpulan data maupun penerapan media.
  2. Banyaknya peserta didik kelas lain menonton.
  3. Tidak ada masukan bagi guru lain (koreksi) mengenai media yang diterapkan.

Langkah-langkah yang dilakukan penulis guna mengatasi kesulitan ini diantaranya adalah dengan cara :

  1. Mangadakan sosialisasi (diskusi) tentang pembelajaran dan model-model pemahaman konsep dengan guru-guru lain.
  2. Melakukan wawancara dengan peserta didik dari kelas lain.
  3. Mengadakan diskusi dengan teman se profesi.

BAB IV

PENUTUP

 A.    Kesimpulan

Pelaksanaan pembelajaran tidak selamanya memperoleh hasil yang ideal. Kondisi ideal adalah dimana semua peserta didik mengikuti, menikmati, memahami dan menuntaskan semua permasalahan yang diberikan oleh guru. Keadaan tersebut bukan hal yang luar biasa mengingat keadaan tersebut dapat terjadi di sekolah mana saja namun bila permasalahan tersebut terjadi pada hampir seluruh peserta didik tentunya hal tersebut harus ditanggulangi dan dicarikan jalan keluarnya.

Fenomena seperti ini terjadi pula di kelas IV SDN 1 Karangampel sebanyak 23 peserta didik tidak dapat mengerjakan operasi perkalian pada bilangan cacah. Setelah menggunakan media spool board nilai rata-rata peserta didik menningkat dari 4,97 menjadi 7,37. Melalui pengumpulan data ada beberapa faktor penyebab diantaranya : pengemasan pembelajaran yang dilakukan oleh guru tidak menarik, bermakna dan memudahkan peserta didik dimana guru hanya sebatas mentransfer ilmu atau rumus-rumus matematika tanpa adaya keterlibatan peserta didik secara fisik maupun psikis.

Alternatif yang digunakan untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan menyajikan pembelajaran yang dapat membuka bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya juga memberikan kemudahan-kemudahan yang spesifik, relevansi dengan masalah ini adalah penanaman konsep pemahaman perkalian bagi peserta didik.

Tetapi setelah menggunakan media spool board peserta didik mengalami peningkatan yang sangat berarti, tes sebelum penggunaan media spool board yaitu nilai rata-rata hanya 4,97 tetapi setelah menggunakan media tersebut meningkat menjadi 7,37.

Selain itu keunggulan dan penggunaan media ini adalah peserta didik ikut terlibat (aktif) sehingga menghilangkan kesan matematika pelajaran yang sulit yang pada akhirnya semua peserta didik dapat menyelesaikan operasi perkalian bilangan cacah dengan cara yang mudah.

Media spool board sebagai penanaman konsep awal perkalian bilangan cacah merupakan hal yang sangat penting, tetapi bukan satu-satunya media yang dipakai. Pengembangan konsep perkalian bilangan cacah dapat dikembangkan lagi dengan media-media yang lain tentunya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan peserta didik.

 B.     Saran

Sebagai bahan kajian, maupun pandangan bagi para guru pada khususnya maupun pada pembaca makalah pada umumnya, ada beberapa hal yang ingin penulis sampaikan walaupun hanya bentuk saran-saran. Guru selaku praktisi pendidikan senantiasa akan dihadapkan pada masalah-masalah keseharian. Hal utama yang harus dilakukan guru adalah senantiasa memiliki kemampuan dan inovasi dalam menciptakan suasana belajar yang menarik dan bermakna.

Semua itu dapat diwujudkan melalui pengemasan, penentuan metode, dan media yang menarik, merancang serta dapat melibatkan peserta didik secara fisik maupun mental, sehingga beberapa hal menjadi kesulitan peserta didik dalam pembelajaran dapat diatasi salah atunya dengan tidak bisanya peserta didik menyelesaikan operasi perkalian bilangan cacah dapat diatasi dengan penanaman konsep awal perkalian, seperti penggunaan media spool board.

Dengan penggunaan media spool board ini semua peserta didik mendapat kemudahan dalam menyelesaikan operasi perkalian bilangan cacah. Jadi pada intinya kemempuan guru mengemas dan menyajikan pembelajaran harus benar-benar membuka kemudahan, variatif dan memberikan peluang keterlibatan peserta didik dalam proses belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

 –          Buchori, dkk. 2004. Gemar Belajar Matematika 4. Semarang : PT. Aneka Ilmu.

-          Muchtar. A, dkk. 1996/1997. Pendidikan Matematika. Jakarta Depdikbud.

-          Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2003. Jakarta : Dharma Bhakti.

-          Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2004. Jakarta : Depdiknas.

-          R Eko Djuniarto dan Winarno. Media Pengajaran. 2003. Jakarta : Depdikbud.

-          Ruseffendi, 1992. Konsep Matematika. Jakarta : Depdikbud.

-          Muchtar A, dkk. 1996. Pendidikan Matematika. Malang : Depdikbud.

-          Ruseffendi, E.T. 1992. Pendidikan Matematika 3. Jakarta : Depdikbud.

 RIWAYAT HIDUP

 AAN SUDRAJAT, S.Pd. dilahirkan di Sumedang tanggal 17 Juli 1961. Lulus SDN Cimungkul pada tahun 1975, SMPN Wado tahun 1978, SPGN Sumedang tahun 1982. Mulai diangkat menjadi guru pada tahun 1983 di SDN Wanasari Dinas P dan K Kecamatan Campakan Kabupaten Cianjur.

Pada tahun 1989 ditugaskan ke Dinas Pdan K perwakilan Kecamatan Baregbeg Kabupaten Ciamis tepatnya di SD Jagaladri, kemudian dimutasikan ke SDN 1 Petirhilir. Melanjutkan studi ke UT UPBJJ Bandung lulus tahun 1997 dan mendapat gelar Ahli Muda Pendidikan dan melanjutkan studi di UPI Kampus Tasikmalaya tahun 2006/2007 lulus tahun 2008 dan sekarang bekerja di SDN 1 Karangampel.

Bapak ke 3 anak dari istri Cicih Kurniasih, S.Pd yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Beliau yang memberi motivasi untuk memberikan terbaik bagi kehidupan keluarga maupun untuk anaknya di masa yang akan datang.

Dengan demikian ada pepatah mengatakan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Dari berbekal itulah pendidikan merupakan ujung tombak bagi kehidupan anak dimasa depan, demi tercapai cita-cita.

About these ads

Posted on Mei 16, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 242 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: